like a butterfly

like a butterfly

Jumat, Juli 17, 2009

Internet adalah sebuah rimba dunia informasi yang bukan hanya berisi hal hal yang sangat berguna bagi kita, tapi juga mengandung berbagai hal negative yang sangat merugikan jika kita tidak memfilter informasi yang ada baik dari sisi informasi, virus, trojan dan malware. Berikut beberapa tips sederhana yang saya dapat dari Tabloid PCplus edisi 337.

· Gunakan browser yang aman. Meskipun hampir semua browser mengklaim aman, tidak ada salahnya ikuti beberapa saran dari rekan atau referensi majalah yang menyatakan tingkat browser teraman

· Pastikan situs yang kita buka dimulai dengan “https”, Huruf s berarti “secure” (aman). Perhatikan tanda gembok yang terdapat dibagian bawah jendela browser untuk memastikan keamanan situs yang kita kunjungi.

· Selalu berhati hati dalam meng klik kiriman email meskipun itu dari orang yang kita kenal. Konfirmasikan kebenarannya, jika ada file attachment atau lampiran, simpan dan pindai terlebih dahulu dengan Antivirus anda sebelum membuka.

· Hindari membuka jendela pop up yang sering muncul dalam situs yang anda buka. Berhati hati pula jika anda ingin menutupnya. Lebih aman gunakan tanda silang pada pojok kanan jendela popup yang muncul.

· Usahakan menggunakan password yang berbeda untuk setiap account anda. Gunakan kombinasi angka dan huruf yang rumit, serta gunakan aplikasi software pihak ketiga untuk membantu mengingat password yang anda buat.

Lakukan update secara berkala pada system operasi dan Antivirus anda untuk meminimalisasi serangan yang berbahaya dari internet.

Sabtu, Februari 21, 2009

Merawat Data Pada Media Cakram (CD/DVD)

Penyimpanan data dalam media cakram CD/DVD baik berupa file gambar, lagu maupun data dalam format file apapun merupakan langkah terbaik untuk mem-back up data dari PC atau komputer. Selain mudah, cakram CD/DVD sudah banyak terdapat disetiap tempat penjualan aksesoris komputer maupun ditoko-toko biasa dari berbagai merk, harga dan kualitas yang beragam. Tetapi kadang terjadi kerusakan pada media cakram tersebut karena kesalahan dalam penyimpanan, gesekan dengan CD lain dalam case yang menyebabkan goresan pada elemen penyimpannya, juga dikarenakan jamur, melengkung, maupun disebabkan oleh kualitas cakram CD/DVD yang dipergunakan kurang begitu baik. Beberapa langkah kecil untuk mengatasi hal tersebut adalah :

- Gunakan cakram CD/DVD dengan kualitas yang baik. Biasanya dari sebuah merk yang baik akan menentukan kualitas barang tersebut meskipun tidak ada media mempunyai kualitas yang kekal dan menjamin 100 % keamanan data.

- Tempatkan CD/DVD dalam case yang tersusun dengan alas yang lembut antara cakram CD/DVD, hindarkan gesekan secara langsung antar CD/DVD karena beresiko tergores yang mengakibatkan media tidak bisa terbaca pada PC/komputer

- Simpan ditempat yang kering, dengan ditambahkan silicon dry gell dan hindarkan dari sinar matahari langsung

- Berikan label/cover yang menutupi seluruh sisi atas lingkaran cakram setelah burning untuk melindungi lapisan elemen penyimpan yang terdapat disisi atas cakram, dan juga bisa digunakan sebagai area untuk penulisan judul atau catatan kecil lainnya

- Berikan nomor atau nama file secara berurutan untuk mempermudah pencarian

- Bersihkan cakram CD/DVD secara periodik, dengan menggunakan cairan pembersih yang direkomendasi pihak produsen atau cukup dengan kain lembut yang dibasahi dengan sedikit air, usap dengan lembut lalu keringkan dengan kain kering yang lembut. Jangan memakai kertas tisu karena akan meninggalkan serpihan kecil yang dapat menghambat proses pembacaan optikal pada PC/komputer

- Back up data dalam cakram tersebut secara berkala antara tiga atau enam bulan sekali.

Sabtu, Januari 10, 2009

Agama dan kitab Suci

Dijelaskan oleh seorang ahli sosiolog agama*), ada lima tahap perkembangan agama dibumi ini. Yaitu agama primitive, agama arkais, agama historis, agama modern awal dan agama modern. Agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan Buddha adalah agama historis. Agama historis muncul pada masyarakat yang telah mengenal aksara dan bersifat transedental, sehingga agama historis cenderung mempunyai pandangan dualisme. Penyelamatan dipakai sebagai tujuan utama, dan kepedulian religinya berpusat pada alam kedua atau akhirat.

Dalam agama modern awal, sifat hierarkis dalam agama historis mulai diruntuhkan. Ajarannya mengarah kedalam (inner) kepada diri manusia sebagai konsekuensi logis. Pasif menerima dunia, tidak harus mengikuti tata cara agama yang ada, tidak harus melakukan shalat lima waktu, kebaktian gereja mulai ditiinggalkan karena hal itu bersifat lahiriah. Ajarannya lebih menekankan iman dengan kualitas batiniah. Simbol agama seperti orang suci, malaikat dan lain lain mulai ditinggalkan. Hampir semua agama historis mempunyai kecenderungan kearah agama modern awal ini, termasuk Taoisme dan Konfusianisme.

Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya agama modern yang definisinya bukan munculnya agama baru akan tetapi timbulnya sikap yang lebih modern, seperti dihilangkannya sistem simbol keagamaan yang dualisme. Tidak mempertentangkan dunia dan akhirat, akan tetapi meleburkan menjadi satu dunia dengan tidak kembali ke monoisme primitif. Agama modern mendorong masyarakatnya mengembangkan gagasan-gagasan baru dalam system sosial menuju masyarakat demokratis. Ajarannya adalah keselamatan yang tidak memimpikan surga tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata dengan mengatasi berbagai ketimpangan dalam hidup, menjaga alam dan lingkungan, persamaan dan persaudaraan.

Berkaitan dengan kitab suci, agama modern memandang bahwa kitab suci adalah pelita untuk menuju kebenaran. Dalam kerangka kearifan, agama ini melakukan penafsiran yang mendalam terhadap kitab suci, membiarkan bahasa sastranya sebagaimana adanya, tetapi hanya menyesuaikan irama atau musiknya untuk menemukan inti dan kandungan yang obyektif agar sesuai terhadap perkembangan jaman dan system budaya masyarakat setempat sebagaimana terjadi pada awal abad masehi ketika masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia.

Pengertian kitab suci, buku suci alkitab atau holy book adalah suatu bentuk buku atau lembaran suci yang memuat Sabda suci atau kalam Ilahi dan dibawa oleh nabi atau rasul. Sebagaimana dilihat dari perjalanan sejarah, kitab tertua yang ada didunia adalah kitab suci agama Hindu yang diperkirakan telah ada sejak 5000 tahun yang lalu. kemudian baru kitab suci agama Yahudi, Majusi, Buddha dan Kong Hucu yang hadir kurang lebih 2500 tahun yang lalu. dan yang lebih muda adalah kitab suci agama Kristen (Perjanjian Baru), kitab agama Islam (Al Qur’an) dan kitab-kitab suci agama Sikh (Adi Grant, sekitar abad XVI) dan agama Bahai yang berkembang sekitar abad XIX. Dari berbagai sejarah tersebut diketahui bahwa kitab suci hadir selalu ditengah suatu masyarakat yang sudah mengenal aksara.Pada umumnya kitab suci memuat hal-hal yang bersifat supranatural seperti Tuhan, dewa, malaikat atau makhluk halus lainnya. Juga memuat tentang kepercayaan tentang dunia yang akan datang, surga dan neraka berikut segala perintah dan larangan, kisah-kisah kepahlawanan, peperangan dan aturan-aturan tentang kehidupan bermasyarakat, serta memuat juga aturan dan tata cara kebaktian kepada Tuhan. Pada kesimpulannya, ternyata semua kitab suci juga menuntun kehidupan batin/spiritual manusia. Dikarenakan banyak mengandung metafora dan perumpamaan, dibutuhkan penalaran dan penafsiran yang bijaksana agar makna yang terkandung dalam setiap ayat dapat menjadi landasan manusia menuju kebenaran dan kehidupan batin yang bersih.

Jumat, Januari 02, 2009

Syekh Siti Jenar - Makna Kematian

Syekh Siti Jenar “Makna Kematian”

Achmad Chodjim PT Serambi Ilmu Semesta November 2006

Ringkasan

Sebagai seorang Jawa, saya seperti berkewajiban menyampaikan sebuih pengetahuan yang saya dapatkan dari buku ini. Terlepas dari kebenaran akan keberadaan Syekh Siti Jenar hanya cerita mitos atau bukan, makna pembelajaran buku ini telah memberikan satu sumbangan yang sangat berarti untuk menambah khasanah ilmu khususnya pengetahuan mengenai Syekh Siti Jenar yang selama ini telah berakar menjadi kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Selama ini saya sebagian besar masyarakat Jawa mengetahui Syekh Siti Jenar berdasar pada cerita turun temurun dan berbau mitologi tanpa pernah mendapatkan referensi yang pasti kebenarannya. Dari berbagai sumber informasi yang saya dapat dan berkembang dimasyarakat Jawa, hampir sebagian besar cerita tentang beliau selalu bersudut miring, atau bernada negatif. Dari seorang Syekh yang atheis, menentang Al-Qur’an dan seolah-olah beliau adalah seorang yang anti agama Islam. Menempatkan sosok Syekh Siti Jenar sebagai seorang yang cukup hanya menjadi sebuah cerita saja, kontroversial dan kesan jika ajaran beliau adalah sebuah ajaran sesat sangat menonjol.

Sebagaimana disampaikan Oleh Budhy Munawar-Rachman, Direktur Pusat Studi Islam Yayasan Paramadina dan seorang dosen di Universitas Paramadina dalam tafsir terhadap buku ini, memberikan konteks Islam Esoteris dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Mengungkap secara mendalam mengenai makna kehidupan sebagai Inti dari ajaran agama Islam dan memahami islam melebihi simbol-simbolnya hingga masuk dalam segi realitas tinggi (high reality) - yang bersifat batiniah. Menempatkan Dzikir sebagai jalan memasuki alam psikologis dan batiniah menuju kedekatan denganTuhan.

Dari sini telah terbaca pandangan Sufistik Syekh Siti Jenar dalam misi pengajaran agama di Jawa, bersifat asimilasi (peleburan budaya Arab sebagai tempat lahirnya Al-Qur’an dan Jawa) yang melahirkan ajaran Islam Jawa. Islam yang cocok dan pas untuk budaya dan keunikan manusia Jawa. Ajarannya bersifat obyektif, rasional dan logis membimbing manusia menemukan kebenaran yang hakiki. Berbeda dengan ajaran 8 Wali yang menjalankan akulturasi (penggabungan budaya secara volumtif, hingga masih bisa dikenali budaya aslinya) terhadap ajaran Islam. Interpretasi dan penafiran beliau inilah yang menjadikan konflik 8 Wali dengan Syekh Siti Jenar.

Memahami Makna Kematian untuk menjadi Manusia Hakiki

Bermacam ajaran agama yang ada didunia mempunyai pandangan berbeda tentang kematian. Dari reinkarnasi, kebangkitan, hingga alam barzah. Tetapi intinya mengindikasikan satu tujuan yang sama, yaitu kembalinya diri, jiwa, roh ke Haribaan Tuhan, meninggalkan alam jasmaniah dibumi. Sangat berbeda dengan pendapat dan ajaran Syekh Siti Jenar, yang menyatakan bahwa “dunia ini adalah alam kematian”. Dunia adalah alam kubur dan raga adalah sebuah terali besi yang menahan jiwa berada didunia dan merasakan kesusahan didunia, haus, lapar, dan kesedihan. hidup sekarang hanya sebuah persiapan untuk memasuki hidup yang sebenarnya. dan jika tidak siap, jiwa akan terperangkap ke dalam alam kematian kembali yang bersifat bangkai.. Hakikat hidup adalah kekal selamanya dan tak tertimpa kematian. Analogi hidup dan mati adalah perputaran bumi pada porosnya, atau terjadinya siang dan malam. Ketika manusia lahir, dia sebenarnya “born to die”. Lahir untuk menuju kematian. Dunia bukan jalan hidup tetapi jalan menuju kematian. Hidup yang sebenarnya adalah tanpa raga, telanjang dalam wujud frekuensi murni. Dalam konteks Jawa dikenal dengan “manunggaling kawula Gusti”, bersatunya diri dengan Tuhan. Kebutuhan kita didunia akan sandang, pangan, papan (pakaian, makanan dan tempat tinggal) selama didunia hanya sarana untuk menunda kematian dan menemukan jalan hidup yang sesungguhnya, karena kematian tidak bisa dihentikan. Meskipun pendapat Syekh Siti Jenar ini semua bersumber serta dilandasi pada ayat-ayat Al Qur’an, tetapi universal untuk semua agama umat manusia. Konsep filsafat inilah yang ingin diterapkan oleh Syekh Siti Jenar karena lebih rasional dalam menggambarkan keaslian kultur masyarakat Jawa. Islam yang dipahami sesuai dengan realita, menekankan pada budi pekerti tanpa kebohongan maupun symbol-simbol yang menipu dan melepaskan kebiasaan hidup yang berdasarkan opini ataupun pendapat. Pancaindrapun tidak bisa kita jadikan pedoman dalam hidup untuk mencari kebenaran. Indra hanyalah alat. Materi. Begitu juga dengan akal budi yang masih bisa diartikan sebagai ego karena sifatnya yang bias dan kemungkinan menyimpang. Luar biasa pendapat Sang Syekh ini, karena 250 tahun mendahului pandangan seorang filsuf besar Immanuel Kant (1724-1804).

Syekh Siti Jenar ingin mengajarkan Islam yang sesuai dengan tatanan kehidupan, kondisi dan budaya masyarakatnya. Berdasar pada akal budi yang terpimpin, melepaskan diri terlebih dulu dari hawa nafsu, kepalsuan dan dusta tetapi tetap dalam alur Syariat Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an, berbentuk Islam yang tumbuh dari dalam diri. Bagi Sang Syekh, hidup sesungguhnya adalah menjadi manusia hakiki yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian dan kodrat. Dalam hal ini ada perbedaan pandangan antara beberapa Sufi yang berpendapat pada dualisme, kesatuan hamba dan Tuhan dengan Sang Syekh yang lebih berfokus pada diri pribadi, satu realitas, Tuhan selalu bersama manusia. Menjadi manusia yang memahami eksistensinya karena hanya manusia yang mempunyai eksistensi didunia. Bagi Syekh, kepercayaan adalah kepercayaan, terlepas dari pandangan dualisme maupun monoisme, terlepas dari bermacam agama dan kepercayaan yang membungkusnya. Agama hanya sebuah jalan yang harus dilalui, dengan tujuan yang sama, Tuhan. Disini Syekh mengajarkan manusia untuk melihat perbedaan antara citra dan realita. Semua yang timbul dari sesama manusia adalah citra, sedangkan menguasai ilmu tentang kematian adalah realita.

Berbagai kajian tentang agama Islam yang dibahas dalam buku ini bersumber pada peninggalan sejarah tentang Syekh Siti Jenar dalam bentuk Pupuh (semacam bait-bait puisi yang biasa dilagukan). Diperlukan kematangan pemikiran kita dalam mendalami buku ini agar tidak timbul kesalahpahaman dalam mengartikan sehingga menjebak pemikiran kita sebagaimana pandangan negatif masyarakat Jawa terhadap Syekh Siti Jenar selama ini. Semua pandangan, ajaran dan pendapat Sang Syekh adalah bersumber pada Al-Qur’an yang ditafsirkan secara mendalam, akurat dan dalam pemaknaan yang tinggi sehingga sesuai dengan adat dan budaya masyarakat Jawa tanpa terjadi pemaksaan dalam artifikasi maupun pelaksanaan

Dalam pemikiran saya yang masih dangkal, dari pendapat Syekh Siti Jenar yang dikemukakan dalam buku ini adalah pentingnya implementasi dalam relevansi antara keikhlasan, kesederhanaan dan memberdayakan pemikiran yang logis untuk mencapai eksistensi manusia dalam perjalanan sementara didunia menuju hidup yang sesungguhnya. Tuhan hanya sebagai Causa Prima (Penyebab Pertama) dalam menciptakan manusia. Sedangkan perbuatan baik atau buruk pada manusia merupakan iradatnya sendiri dan tidak bisa disalahkan pada Tuhan. Jika manusia telah mencapai tingkatan dalam pengendalian diri yang baik, berbuat baik beramal saleh, mampu melepaskan hawa nafsu dan berbudi luhur, niscaya Tuhan akan senantiasa bersama manusia. Bila manusia tidak lagi memikirkan semua syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat, maka dirinya telah menuju “manunggaling kawula Gusti”. Menjadi wujud realitas manusia sejati yang bisa berasal dari agama Islam, Buddha, Kristen ataupun lainnya. Memenuhi kodratnya sebagai khalifah-Nya didunia. Juga pendapat beliau yang menggambarkan demokrasi, perbedaan pendapat, keberagaman, persatuan dan berbagai pemikiran yang hebat akan tetapi terlalu jauh kedepan melampaui pemikiran umum pada masa itu sehinga menimbulkan perbedaan pendapat dan pergesekan dengan ajaran 8 Wali yang sudah ada pada waktu itu dan berpangkal pada pemusnahan bahkan pembelokan sejarah terhadap Syekh Siti Jenar dan ajarannya.

Senin, Desember 22, 2008

Warna Dalam Feng Shui

Do you believe about Feng Shui ? Feng Shui is a Chinese culture to help make a balancing in the life. In the feng shui, the colors is a vibration. We always responsed this, when we aware or not. What colors are we clothes daily influence point of view the others to us. This is some colors character in feng shui, usually applied the colors of interior and exterior paint in the house :

RED

The red characteristic gave stimulation and domination. Closely related with warmly and abounding, but gave too the angry, shame and dislikeness. In the room house, red is become less the measurement, but make the objects looks larger. Red is good for the accent. Right for dinning room, children room, kitchen and working room.

YELLOW

Closely related with bright and clear, and intellectuality too. The characteristic is gave the stimulation in the brain and helping in digestion. Positive characteristics is Optimism, mind and firmness. The negative characteristics is excessive and awkwardness. Good for color in coming door house and kitchen. Not right for dinning room, children room and bath.

GREEN

The growth, fertility and harmony symbol. Coolest and freshly. The positive characteristics is optimism, freedom, and balance. The negative characteristics is jealously and falsehood. Right for therapy room and bath, not good for living room, playing room and studying room.

BLUE

Peacefulness and coolest. Closely related with spirituality, contemplation, mystery and patience. Positive associated is believing and stability. The Negative is suspiciously and melancholic. In a room, gave look larger. Good for therapy room and bedroom. Not right for living room, dinning room and working room

WHITE

The new beginning and purity symbols. Positive qualify is clean and fresh. Negative characteristics is cold and without life. Good for kitchen and bathroom. Not right on children room and dinning room.

BLACK

Mysterious and independent is black color characteristics. Positive qualify is fascination and strength. Negative characteristics is deadly, darkness and evil powers. Good for adolescent room, and bedroom. Not right for working room, children room and living room.

BROWN

Explain the stability and integrity. Positive characteristics is stability and elegance but explain the negative looks about depression and older. Good for working room but not good for living room.

From : much informations

Senin, Desember 15, 2008

mencari kedamaian sejati

Berhati-hatilah berpikir positif (Positive Thinking)
: Dalam usaha menuju kebahagiaan hidup sejati

Sebagaimana riset menyebutkan, 60.000 pikiran kita miliki setiap hari. Adalah mustahil untuk membuat semua pikiran itu positif.
Pertama, karena sifat kegiatannya yang abstrak, banyak yang tidak menyadari bahwa pikiran negatif itu dilahirkan dari perasaan negatif yang lebih berupa vibrasi energi, bukan dari pikiran. Sehingga meski seperti ada manfaatnya, positive thinking sebenarnya merupakan resep yang keliru untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif.
Kedua, karena penyebab timbulnya pikiran negatif adalah perasaan dalam hati (bawah sadar), maka segala usaha untuk menanamkan pikiran positif yang tidak dilakukan dihati menjadi tidak tepat sasaran. Dan betapapun niat mulia seseorang untuk berniat lebih baik, prosesnya akan sangat sulit dan bahkan hasilnya kadang tidak memuaskan.
Ketiga, ketika kita berusaha untuk berpikir positif, kita tidak sadar kalau kita “memusuhi, membenci, dan tidak suka” bagian diri kita sendiri (yang negatif). Seperti hukum alam, ini juga berlaku bagi pikiran kita. Bagian negatif diri kita akan semakin terlihat, dan kita akan semaikn tidak menghargai diri kita sendiri. Berpikir sesuatu, baik atau buruk adalah sama seperti merencanakan sesuatu itu terjadi.
Kenapa kita lebih sering berpikir positif ?
Karena kita hanya memanfaatkan 12 % kekuatan pikiran sadar (baca : logika) pada otak kita, dari pada 88 % kekuatan bawah sadar (subconscious mind) kita yang secara umum disebut “perasaan”.
Selama ini hidup hanya didominasi oleh otak (pikiran) yang menentukan kemana kita berjalan, kapan kita harus istirahat, apa yang akan kita lakukan, dll. Kita seringkali mengesampingkan “perasaan” yang kadang mencoba memberitahu jalan atau arah yang benar yang harus kita lalui. Kenapa kita tak mencoba menyerahkan keputusan-keputusan yang harus kita ambil dalam hidup kepada yang lebih berhak ? Yaitu jantung kita ?
Kenapa jantung ?
Sebagaimana telah diketemukan oleh para ilmuwan, bahwa jantung mulai berdetak pada janin bahkan sebelum otak terbentuk. Dalam jantung terdapat lebih dari 40 ribu sel neuron, yang menandakan bahwa jantuung memiliki system saraf tersendiri yang sering disebut ‘otak dalam jantung’. Perlu diketahui pula, bahwa jantung mempunyai medan elektromagnetik 5000 kali lebih besar daripada otak kita. Dan ketika medan energi dari jantung ini kita ijinkan mengalir ke otak, para ilmuwan menemukan pula bahwa perasaan dan informasi yang dikirim dari jantung ke otak dapat menimbulkan efek transformatif pada fungsi otak, memunculkan ketajaman intuisi dan meningkatkan perasaan nyaman dan tenang. Selain itu, kolaborasi keduanya juga memunculkan keseimbangan dalam mengeliminasi stress, meningkatkan kreatifitas dan rasa damai di hati seseorang secara bersamaan. Karena keterikatan yang kuat inilah, jantung mulai dilihat sebagai saluran atau penghubung jiwa, kesadaran tinggi atau energi spiritual yang masuk ke dalam manusia saat dilahirkan. Dari sinilah kita sebut jantung adalah sebagai “perasaan atau hati” kita. Karena saat hati kita terluka, kita selalu menunjuk dalam dada kita. Saat kita berpikir takutpun, jantung kita lah yang berdebar.
Disinilah kita ajari diri kita untuk menggunakan perasaan sebagai navigasi dalam hidup kita. Dari sini kita belajar dan berpikir dengan jantung (hati, perasaan). untuk ikhlas dan pada akhirnya kita menguasai perasaan enak (positive feeling), bukan hanya berpikir enak (positive thinking). Kita hanya perlu menyelaraskan keduanya. Semua proses perubahan seharusnya dimulai dengan positive feeling dan diakhiri dengan positive thinking.
Karena itu, ada baiknya sebelum mengejar cita-cita atau keinginan, kita telaah lebih dulu apa tujuan hidup kita. Karena jika tidak, kita akan terus memproduksi pikiran positif (positive thinking), berusaha keras mewujudkan cita-cita itu, tapi kita lupakan kondisi dan kata hati kita sendiri. Kita rubah paradigma positive thinking yang menyebutkan “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita pikirkan”, dengan paradigma positive feeling “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita rasakan”. Karena petunjuk Tuhan yang kita harapkan untuk menjadi manusia sempurna tidak bisa diterima oleh kemampuan Cipta-Akal-Pikir manusia, melainkan oleh Rasa dalam dalam keheningan Cipta-Rasa-Karsa. Dalam ajaran Jawa disebut Manunggaling kawulo Gusti. Sedangkan manusia sempurna adalah manusia yang seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya, yang meliputi kecerdasan fisikal dan intelektual yang bisa kita dapat dari bangku pendidikan, kecerdasan emosional dari pergaulan, dan kecerdasan spiritual dari kematangan pengalaman hidup. Kita hanya perlu kembali ke fitrah kita sebagai manusia untuk menjadi sempurna. Dan kebahagian adalah Fitrah kita sebagai manusia. Karena kita adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan.
Karena Tuhan telah memberikan kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri kita sejak kita lahir didunia sebagai manusia. Kita hanya perlu menariknya dari alam kosmos kita, dengan bersyukur dalam Doa, dalam rasa ikhlas. Karena saat kita Ikhlas, alam vibrasi melalui mekanika kosmos akan membantu mewujudkan niat-niat kita. Saat kita Ikhlas, doa dan niat kita berjabat tangan dengan energi vibrasi yang tak kasat mata kita melalui mekanisme kosmos tadi, tanpa kita sadari. Disitulah tangan Tuhan bekerja. Karena dalam doa, kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan, bukan apa yang kita inginkan. Dan dalam syukur ada rasa cinta terhadap apa yang kita punya, sekecil apapun, serta mengiingatkan kita bahwa Tuhanlah yang memberi. Tuhan tahu apa yang kita mau, kita hanya perlu tahu apa yang kita mau. Sukses adalah pilihan. Karena dalam setiap Niat (pikiran dan perasaan) dalam keikhlasan yang dalam kita sudah langsung dalam proses perwujudan dari keinginan-keinginan sukses kita. Dan hanya keyakinan Keimanan dalam bentuk syukur yang akan memastikan kelancaran proses itu.
Jadi pada dasarnya, kita telah memiliki kekuatan besar untuk meraih apa yang kita inginkan. Tinggal kita yang harus cerdas dan fokus (: percaya) dalam meminta. Dan dalam Doa yang disertai dengan ikhlas, dan keyakinan tingkat tinggi kepada Tuhan, kita seolah hanya seperti menarik kebahagiaan untuk menjadi kenyataan yang sudah bertaburan disekeliling kita. Kita hanya perlu merubah teori tentang kecerdasan fisikal, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual diatas menjadi pengalaman nyata yang empiris. Karena semua manusia adalah berhasil, sebagaimana Fitrah yang diberikan Tuhan. Tidak perlu kita mencari jauh diluar. Kita hanya butuh ketenangan fisik, mental dan spiritual untuk berbuat intim dengan Tuhan dalam Doa yang ikhlas, khusuk dan diakhiri dengan rasa syukur. Bersyukurlah dimulai dari hal terkecil, seperti bersyukur jika kita masih bisa mengucap syukur itu !

“Tuhan ada disini, didalam jiwa ini.
Berusahalah agar Dia tersenyum”
Ebiet G Ade

Sebenarnya, kebahagiaan adalah alat untuk meraih kesuksesan. Karena sukses bukan sebuah pencapaian. Melainkan hasil dari rasa hati yang bahagia. Nasib kita mencerminkan karakter kita. Sementara karakter kita bermuara dari kebiasaan dan tindakan kita. Lalu mengapa kita tidak belajar langsung dari Tuhan lewat diri kita ?

“Istafti Qalbak, mintalah fatwa pada hatimu”
Muhammad SAW

Mari kita gunakan hati (: perasaan) kita untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Gunakan 88 % kekuatan perasaan kita. Mari ciptakan dunia yang sukses dengan kekuatan hati yang ikhlas. Tuhan hanya terasa kehadiranNya dalam kedamaian.

Des 08 Dari : berbagai sumber

mencari kedamaian sejati