Berhati-hatilah berpikir positif (Positive Thinking)
: Dalam usaha menuju kebahagiaan hidup sejati
Sebagaimana riset menyebutkan, 60.000 pikiran kita miliki setiap hari. Adalah mustahil untuk membuat semua pikiran itu positif.
Pertama, karena sifat kegiatannya yang abstrak, banyak yang tidak menyadari bahwa pikiran negatif itu dilahirkan dari perasaan negatif yang lebih berupa vibrasi energi, bukan dari pikiran. Sehingga meski seperti ada manfaatnya, positive thinking sebenarnya merupakan resep yang keliru untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif.
Kedua, karena penyebab timbulnya pikiran negatif adalah perasaan dalam hati (bawah sadar), maka segala usaha untuk menanamkan pikiran positif yang tidak dilakukan dihati menjadi tidak tepat sasaran. Dan betapapun niat mulia seseorang untuk berniat lebih baik, prosesnya akan sangat sulit dan bahkan hasilnya kadang tidak memuaskan.
Ketiga, ketika kita berusaha untuk berpikir positif, kita tidak sadar kalau kita “memusuhi, membenci, dan tidak suka” bagian diri kita sendiri (yang negatif). Seperti hukum alam, ini juga berlaku bagi pikiran kita. Bagian negatif diri kita akan semakin terlihat, dan kita akan semaikn tidak menghargai diri kita sendiri. Berpikir sesuatu, baik atau buruk adalah sama seperti merencanakan sesuatu itu terjadi.
Kenapa kita lebih sering berpikir positif ?
Karena kita hanya memanfaatkan 12 % kekuatan pikiran sadar (baca : logika) pada otak kita, dari pada 88 % kekuatan bawah sadar (subconscious mind) kita yang secara umum disebut “perasaan”.
Selama ini hidup hanya didominasi oleh otak (pikiran) yang menentukan kemana kita berjalan, kapan kita harus istirahat, apa yang akan kita lakukan, dll. Kita seringkali mengesampingkan “perasaan” yang kadang mencoba memberitahu jalan atau arah yang benar yang harus kita lalui. Kenapa kita tak mencoba menyerahkan keputusan-keputusan yang harus kita ambil dalam hidup kepada yang lebih berhak ? Yaitu jantung kita ?
Kenapa jantung ?
Sebagaimana telah diketemukan oleh para ilmuwan, bahwa jantung mulai berdetak pada janin bahkan sebelum otak terbentuk. Dalam jantung terdapat lebih dari 40 ribu sel neuron, yang menandakan bahwa jantuung memiliki system saraf tersendiri yang sering disebut ‘otak dalam jantung’. Perlu diketahui pula, bahwa jantung mempunyai medan elektromagnetik 5000 kali lebih besar daripada otak kita. Dan ketika medan energi dari jantung ini kita ijinkan mengalir ke otak, para ilmuwan menemukan pula bahwa perasaan dan informasi yang dikirim dari jantung ke otak dapat menimbulkan efek transformatif pada fungsi otak, memunculkan ketajaman intuisi dan meningkatkan perasaan nyaman dan tenang. Selain itu, kolaborasi keduanya juga memunculkan keseimbangan dalam mengeliminasi stress, meningkatkan kreatifitas dan rasa damai di hati seseorang secara bersamaan. Karena keterikatan yang kuat inilah, jantung mulai dilihat sebagai saluran atau penghubung jiwa, kesadaran tinggi atau energi spiritual yang masuk ke dalam manusia saat dilahirkan. Dari sinilah kita sebut jantung adalah sebagai “perasaan atau hati” kita. Karena saat hati kita terluka, kita selalu menunjuk dalam dada kita. Saat kita berpikir takutpun, jantung kita lah yang berdebar.
Disinilah kita ajari diri kita untuk menggunakan perasaan sebagai navigasi dalam hidup kita. Dari sini kita belajar dan berpikir dengan jantung (hati, perasaan). untuk ikhlas dan pada akhirnya kita menguasai perasaan enak (positive feeling), bukan hanya berpikir enak (positive thinking). Kita hanya perlu menyelaraskan keduanya. Semua proses perubahan seharusnya dimulai dengan positive feeling dan diakhiri dengan positive thinking.
Karena itu, ada baiknya sebelum mengejar cita-cita atau keinginan, kita telaah lebih dulu apa tujuan hidup kita. Karena jika tidak, kita akan terus memproduksi pikiran positif (positive thinking), berusaha keras mewujudkan cita-cita itu, tapi kita lupakan kondisi dan kata hati kita sendiri. Kita rubah paradigma positive thinking yang menyebutkan “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita pikirkan”, dengan paradigma positive feeling “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita rasakan”. Karena petunjuk Tuhan yang kita harapkan untuk menjadi manusia sempurna tidak bisa diterima oleh kemampuan Cipta-Akal-Pikir manusia, melainkan oleh Rasa dalam dalam keheningan Cipta-Rasa-Karsa. Dalam ajaran Jawa disebut Manunggaling kawulo Gusti. Sedangkan manusia sempurna adalah manusia yang seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya, yang meliputi kecerdasan fisikal dan intelektual yang bisa kita dapat dari bangku pendidikan, kecerdasan emosional dari pergaulan, dan kecerdasan spiritual dari kematangan pengalaman hidup. Kita hanya perlu kembali ke fitrah kita sebagai manusia untuk menjadi sempurna. Dan kebahagian adalah Fitrah kita sebagai manusia. Karena kita adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan.
Karena Tuhan telah memberikan kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri kita sejak kita lahir didunia sebagai manusia. Kita hanya perlu menariknya dari alam kosmos kita, dengan bersyukur dalam Doa, dalam rasa ikhlas. Karena saat kita Ikhlas, alam vibrasi melalui mekanika kosmos akan membantu mewujudkan niat-niat kita. Saat kita Ikhlas, doa dan niat kita berjabat tangan dengan energi vibrasi yang tak kasat mata kita melalui mekanisme kosmos tadi, tanpa kita sadari. Disitulah tangan Tuhan bekerja. Karena dalam doa, kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan, bukan apa yang kita inginkan. Dan dalam syukur ada rasa cinta terhadap apa yang kita punya, sekecil apapun, serta mengiingatkan kita bahwa Tuhanlah yang memberi. Tuhan tahu apa yang kita mau, kita hanya perlu tahu apa yang kita mau. Sukses adalah pilihan. Karena dalam setiap Niat (pikiran dan perasaan) dalam keikhlasan yang dalam kita sudah langsung dalam proses perwujudan dari keinginan-keinginan sukses kita. Dan hanya keyakinan Keimanan dalam bentuk syukur yang akan memastikan kelancaran proses itu.
Jadi pada dasarnya, kita telah memiliki kekuatan besar untuk meraih apa yang kita inginkan. Tinggal kita yang harus cerdas dan fokus (: percaya) dalam meminta. Dan dalam Doa yang disertai dengan ikhlas, dan keyakinan tingkat tinggi kepada Tuhan, kita seolah hanya seperti menarik kebahagiaan untuk menjadi kenyataan yang sudah bertaburan disekeliling kita. Kita hanya perlu merubah teori tentang kecerdasan fisikal, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual diatas menjadi pengalaman nyata yang empiris. Karena semua manusia adalah berhasil, sebagaimana Fitrah yang diberikan Tuhan. Tidak perlu kita mencari jauh diluar. Kita hanya butuh ketenangan fisik, mental dan spiritual untuk berbuat intim dengan Tuhan dalam Doa yang ikhlas, khusuk dan diakhiri dengan rasa syukur. Bersyukurlah dimulai dari hal terkecil, seperti bersyukur jika kita masih bisa mengucap syukur itu !
“Tuhan ada disini, didalam jiwa ini.
Berusahalah agar Dia tersenyum”
Ebiet G Ade
Sebenarnya, kebahagiaan adalah alat untuk meraih kesuksesan. Karena sukses bukan sebuah pencapaian. Melainkan hasil dari rasa hati yang bahagia. Nasib kita mencerminkan karakter kita. Sementara karakter kita bermuara dari kebiasaan dan tindakan kita. Lalu mengapa kita tidak belajar langsung dari Tuhan lewat diri kita ?
“Istafti Qalbak, mintalah fatwa pada hatimu”
Muhammad SAW
Mari kita gunakan hati (: perasaan) kita untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Gunakan 88 % kekuatan perasaan kita. Mari ciptakan dunia yang sukses dengan kekuatan hati yang ikhlas. Tuhan hanya terasa kehadiranNya dalam kedamaian.
Des 08 Dari : berbagai sumber