like a butterfly

like a butterfly

Senin, Desember 22, 2008

Warna Dalam Feng Shui

Do you believe about Feng Shui ? Feng Shui is a Chinese culture to help make a balancing in the life. In the feng shui, the colors is a vibration. We always responsed this, when we aware or not. What colors are we clothes daily influence point of view the others to us. This is some colors character in feng shui, usually applied the colors of interior and exterior paint in the house :

RED

The red characteristic gave stimulation and domination. Closely related with warmly and abounding, but gave too the angry, shame and dislikeness. In the room house, red is become less the measurement, but make the objects looks larger. Red is good for the accent. Right for dinning room, children room, kitchen and working room.

YELLOW

Closely related with bright and clear, and intellectuality too. The characteristic is gave the stimulation in the brain and helping in digestion. Positive characteristics is Optimism, mind and firmness. The negative characteristics is excessive and awkwardness. Good for color in coming door house and kitchen. Not right for dinning room, children room and bath.

GREEN

The growth, fertility and harmony symbol. Coolest and freshly. The positive characteristics is optimism, freedom, and balance. The negative characteristics is jealously and falsehood. Right for therapy room and bath, not good for living room, playing room and studying room.

BLUE

Peacefulness and coolest. Closely related with spirituality, contemplation, mystery and patience. Positive associated is believing and stability. The Negative is suspiciously and melancholic. In a room, gave look larger. Good for therapy room and bedroom. Not right for living room, dinning room and working room

WHITE

The new beginning and purity symbols. Positive qualify is clean and fresh. Negative characteristics is cold and without life. Good for kitchen and bathroom. Not right on children room and dinning room.

BLACK

Mysterious and independent is black color characteristics. Positive qualify is fascination and strength. Negative characteristics is deadly, darkness and evil powers. Good for adolescent room, and bedroom. Not right for working room, children room and living room.

BROWN

Explain the stability and integrity. Positive characteristics is stability and elegance but explain the negative looks about depression and older. Good for working room but not good for living room.

From : much informations

Senin, Desember 15, 2008

mencari kedamaian sejati

Berhati-hatilah berpikir positif (Positive Thinking)
: Dalam usaha menuju kebahagiaan hidup sejati

Sebagaimana riset menyebutkan, 60.000 pikiran kita miliki setiap hari. Adalah mustahil untuk membuat semua pikiran itu positif.
Pertama, karena sifat kegiatannya yang abstrak, banyak yang tidak menyadari bahwa pikiran negatif itu dilahirkan dari perasaan negatif yang lebih berupa vibrasi energi, bukan dari pikiran. Sehingga meski seperti ada manfaatnya, positive thinking sebenarnya merupakan resep yang keliru untuk mengubah pikiran negatif menjadi positif.
Kedua, karena penyebab timbulnya pikiran negatif adalah perasaan dalam hati (bawah sadar), maka segala usaha untuk menanamkan pikiran positif yang tidak dilakukan dihati menjadi tidak tepat sasaran. Dan betapapun niat mulia seseorang untuk berniat lebih baik, prosesnya akan sangat sulit dan bahkan hasilnya kadang tidak memuaskan.
Ketiga, ketika kita berusaha untuk berpikir positif, kita tidak sadar kalau kita “memusuhi, membenci, dan tidak suka” bagian diri kita sendiri (yang negatif). Seperti hukum alam, ini juga berlaku bagi pikiran kita. Bagian negatif diri kita akan semakin terlihat, dan kita akan semaikn tidak menghargai diri kita sendiri. Berpikir sesuatu, baik atau buruk adalah sama seperti merencanakan sesuatu itu terjadi.
Kenapa kita lebih sering berpikir positif ?
Karena kita hanya memanfaatkan 12 % kekuatan pikiran sadar (baca : logika) pada otak kita, dari pada 88 % kekuatan bawah sadar (subconscious mind) kita yang secara umum disebut “perasaan”.
Selama ini hidup hanya didominasi oleh otak (pikiran) yang menentukan kemana kita berjalan, kapan kita harus istirahat, apa yang akan kita lakukan, dll. Kita seringkali mengesampingkan “perasaan” yang kadang mencoba memberitahu jalan atau arah yang benar yang harus kita lalui. Kenapa kita tak mencoba menyerahkan keputusan-keputusan yang harus kita ambil dalam hidup kepada yang lebih berhak ? Yaitu jantung kita ?
Kenapa jantung ?
Sebagaimana telah diketemukan oleh para ilmuwan, bahwa jantung mulai berdetak pada janin bahkan sebelum otak terbentuk. Dalam jantung terdapat lebih dari 40 ribu sel neuron, yang menandakan bahwa jantuung memiliki system saraf tersendiri yang sering disebut ‘otak dalam jantung’. Perlu diketahui pula, bahwa jantung mempunyai medan elektromagnetik 5000 kali lebih besar daripada otak kita. Dan ketika medan energi dari jantung ini kita ijinkan mengalir ke otak, para ilmuwan menemukan pula bahwa perasaan dan informasi yang dikirim dari jantung ke otak dapat menimbulkan efek transformatif pada fungsi otak, memunculkan ketajaman intuisi dan meningkatkan perasaan nyaman dan tenang. Selain itu, kolaborasi keduanya juga memunculkan keseimbangan dalam mengeliminasi stress, meningkatkan kreatifitas dan rasa damai di hati seseorang secara bersamaan. Karena keterikatan yang kuat inilah, jantung mulai dilihat sebagai saluran atau penghubung jiwa, kesadaran tinggi atau energi spiritual yang masuk ke dalam manusia saat dilahirkan. Dari sinilah kita sebut jantung adalah sebagai “perasaan atau hati” kita. Karena saat hati kita terluka, kita selalu menunjuk dalam dada kita. Saat kita berpikir takutpun, jantung kita lah yang berdebar.
Disinilah kita ajari diri kita untuk menggunakan perasaan sebagai navigasi dalam hidup kita. Dari sini kita belajar dan berpikir dengan jantung (hati, perasaan). untuk ikhlas dan pada akhirnya kita menguasai perasaan enak (positive feeling), bukan hanya berpikir enak (positive thinking). Kita hanya perlu menyelaraskan keduanya. Semua proses perubahan seharusnya dimulai dengan positive feeling dan diakhiri dengan positive thinking.
Karena itu, ada baiknya sebelum mengejar cita-cita atau keinginan, kita telaah lebih dulu apa tujuan hidup kita. Karena jika tidak, kita akan terus memproduksi pikiran positif (positive thinking), berusaha keras mewujudkan cita-cita itu, tapi kita lupakan kondisi dan kata hati kita sendiri. Kita rubah paradigma positive thinking yang menyebutkan “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita pikirkan”, dengan paradigma positive feeling “kita akan mendapatkan apa yang paling sering kita rasakan”. Karena petunjuk Tuhan yang kita harapkan untuk menjadi manusia sempurna tidak bisa diterima oleh kemampuan Cipta-Akal-Pikir manusia, melainkan oleh Rasa dalam dalam keheningan Cipta-Rasa-Karsa. Dalam ajaran Jawa disebut Manunggaling kawulo Gusti. Sedangkan manusia sempurna adalah manusia yang seimbang dan utuh dengan seluruh kecerdasannya, yang meliputi kecerdasan fisikal dan intelektual yang bisa kita dapat dari bangku pendidikan, kecerdasan emosional dari pergaulan, dan kecerdasan spiritual dari kematangan pengalaman hidup. Kita hanya perlu kembali ke fitrah kita sebagai manusia untuk menjadi sempurna. Dan kebahagian adalah Fitrah kita sebagai manusia. Karena kita adalah refleksi dari sifat-sifat Tuhan.
Karena Tuhan telah memberikan kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri kita sejak kita lahir didunia sebagai manusia. Kita hanya perlu menariknya dari alam kosmos kita, dengan bersyukur dalam Doa, dalam rasa ikhlas. Karena saat kita Ikhlas, alam vibrasi melalui mekanika kosmos akan membantu mewujudkan niat-niat kita. Saat kita Ikhlas, doa dan niat kita berjabat tangan dengan energi vibrasi yang tak kasat mata kita melalui mekanisme kosmos tadi, tanpa kita sadari. Disitulah tangan Tuhan bekerja. Karena dalam doa, kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan, bukan apa yang kita inginkan. Dan dalam syukur ada rasa cinta terhadap apa yang kita punya, sekecil apapun, serta mengiingatkan kita bahwa Tuhanlah yang memberi. Tuhan tahu apa yang kita mau, kita hanya perlu tahu apa yang kita mau. Sukses adalah pilihan. Karena dalam setiap Niat (pikiran dan perasaan) dalam keikhlasan yang dalam kita sudah langsung dalam proses perwujudan dari keinginan-keinginan sukses kita. Dan hanya keyakinan Keimanan dalam bentuk syukur yang akan memastikan kelancaran proses itu.
Jadi pada dasarnya, kita telah memiliki kekuatan besar untuk meraih apa yang kita inginkan. Tinggal kita yang harus cerdas dan fokus (: percaya) dalam meminta. Dan dalam Doa yang disertai dengan ikhlas, dan keyakinan tingkat tinggi kepada Tuhan, kita seolah hanya seperti menarik kebahagiaan untuk menjadi kenyataan yang sudah bertaburan disekeliling kita. Kita hanya perlu merubah teori tentang kecerdasan fisikal, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual diatas menjadi pengalaman nyata yang empiris. Karena semua manusia adalah berhasil, sebagaimana Fitrah yang diberikan Tuhan. Tidak perlu kita mencari jauh diluar. Kita hanya butuh ketenangan fisik, mental dan spiritual untuk berbuat intim dengan Tuhan dalam Doa yang ikhlas, khusuk dan diakhiri dengan rasa syukur. Bersyukurlah dimulai dari hal terkecil, seperti bersyukur jika kita masih bisa mengucap syukur itu !

“Tuhan ada disini, didalam jiwa ini.
Berusahalah agar Dia tersenyum”
Ebiet G Ade

Sebenarnya, kebahagiaan adalah alat untuk meraih kesuksesan. Karena sukses bukan sebuah pencapaian. Melainkan hasil dari rasa hati yang bahagia. Nasib kita mencerminkan karakter kita. Sementara karakter kita bermuara dari kebiasaan dan tindakan kita. Lalu mengapa kita tidak belajar langsung dari Tuhan lewat diri kita ?

“Istafti Qalbak, mintalah fatwa pada hatimu”
Muhammad SAW

Mari kita gunakan hati (: perasaan) kita untuk meraih kebahagiaan yang sejati. Gunakan 88 % kekuatan perasaan kita. Mari ciptakan dunia yang sukses dengan kekuatan hati yang ikhlas. Tuhan hanya terasa kehadiranNya dalam kedamaian.

Des 08 Dari : berbagai sumber

mencari kedamaian sejati


Minggu, Desember 07, 2008

Tentang Petani

Beberapa waktu yang lalu, saya mendengar keluhan bapak kepada Ibu saya, tentang tanaman padi yang tengah ditanam beliau. Semua berawal dari sulitnya mendapatkan pupuk organik sebagai nutrisi vital untuk tanaman padi. Seharian bapak saya antre untuk mendapatkan pupuk tersebut, yang ternyata begitu tiba antrean, pupuk sudah habis.

Saya hanya mendengarkan saja, sembari menonton teve karena saya akui memang sedikit durhaka, anak seorang petani yang tidak tahu bagaimana susahnya hidup sebagai petani.

Sampai pada perkataan bapak yang sedikit emosional saya kira, “apa presiden kita ngga makan nasi?” Mungkin hanya sebuah ungkapan sederhana tentang kekesalan bapak saya, tapi kok saya rasakan amat dalam maknanya.

Sudah begitu parahkah kondisi pertanian di Indonesia? Sudah begitu susahkah hidup sebagai seorang petani di Indonesia. ‘Karir’ yang dulu saya anggap sebagai “Really Hero” didunia.

Entah sisi mana yang salah, saya tidak berminat membahas itu.

Saya coba cari tahu. Dari data yang saya dapat, luas areal pertanian di Indonesia terus menyusut dari tahun ke tahun, karena perkembangan pemukiman, pemekaran perkotaan, pembangunan jalan baru, atau pemilik lahan yang bosan menjadi petani dan merubah lahan pertanian tanaman pangan menjadi lahan kering untuk tanaman keras. Jika saya sedikit berhitung, luas lahan pertanian pada dalam kurun waktu tahun 1998 – 1993 saja setiap tahun berkurang 40.000 hektar, dan dalam kurun waktu tahun 2000 – 2002 berkurang 110,16 ribu hektar. Bisa dibilang dalam sehari 3000 hektar sawah menghilang dari tanah Indonesia. Yang lebih membuat saya lebih senewen, lahan sawah khusus didaerah kecil saya, menyusut kurang lebih 4% tiap tahun! Penyusutan yang sangat signifikan menurut saya, jika saya sedikit takut untuk menuliskan mengkhawatirkan!

Masih mencoba berhitung-hitung lagi, juga dari data yang saya dapat, jika pada tahun 2007 jumlah penduduk Indonesia kurang lebih 220 juta jiwa, dengan prediksi pertumbuhan penduduk 7 % saja pertahun, idealnya untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah penduduk yang saya yakin semua masih doyan dan makan nasi, luas lahan pertanian di Indonesia kurang lebih 15 juta hektar. Sedangkan saat ini hanya tinggal 7 juta hektar lahan sawah produktif. Berarti pada tahun 2015 kurang lebih 300 juta jiwa, masih mampukah Bapak-Bapak saya mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri sendiri dengan terbatasnya lahan pertanian yang tersisa? Masih imbangkah pertumbuhan penduduk dengan kondisi pangan saat itu? Atau pola hidup masyarakatnya saja yang dirubah? Biasakan sarapan sereal, makan siang roti, makan malam kentang?

Berkaitan dengan keluhan bapak saya tadi, dari kaca mata saya yang notabene bego untuk urusan perpadian, saya kok berpikir, mestinya dengan munyusutnya lahan pertanian, keberadaan pupuk harusnya kan lebih melimpah karena semakin banyak orang yang tidak lagi membutuhkannya. Tidak perlu ngantre, berebut, atau terpaksa menjual satu dua item barang untuk menebus sekantung pupuk yang jikapun ada harganya melebihi ambang batas kemampuan finansial seorang petani kayak bapak saya yang di Indonesia adalah termasuk kasta kaum miskin.

Ah mungkin saya yang terlalu prediksional, naïf, atau berandai-andai. Saya hanya mencoba memikirkan, masih bisakah saya memberi makan nasi pada anak saya kelak? Masih adakah tanaman padi yang bisa dilihat anak cucu saya kelak?

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan muncul dibenak saya hanya karena perkataan bapak tadi. Mencambuk inspirasi saya, juga kepedihan yang tiba-tiba berontak dari kealpaan dalam melihat sekitar didunia kecil hidup saya.

Tapi saya masih mencoba yakin, orang-orang, kelompok, instansi, institusi, departemen atau dinas apapun yang berkaitan dengan problema ini, adalah manusia-manusia hebat yang diikat Tuhan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut sebagaimana tanggungjawabnya. Entah bagaimana caranya, sekali lagi saya kok tidak berminat membahasnya.

Sampai saat tulisan ini saya ketik, saya hanya masih yakin Pak Presiden masih doyan dan makan nasi.

Solo. AwalDes08