like a butterfly

like a butterfly

Sabtu, Januari 10, 2009

Agama dan kitab Suci

Dijelaskan oleh seorang ahli sosiolog agama*), ada lima tahap perkembangan agama dibumi ini. Yaitu agama primitive, agama arkais, agama historis, agama modern awal dan agama modern. Agama-agama besar seperti Islam, Kristen, Yahudi, Hindu dan Buddha adalah agama historis. Agama historis muncul pada masyarakat yang telah mengenal aksara dan bersifat transedental, sehingga agama historis cenderung mempunyai pandangan dualisme. Penyelamatan dipakai sebagai tujuan utama, dan kepedulian religinya berpusat pada alam kedua atau akhirat.

Dalam agama modern awal, sifat hierarkis dalam agama historis mulai diruntuhkan. Ajarannya mengarah kedalam (inner) kepada diri manusia sebagai konsekuensi logis. Pasif menerima dunia, tidak harus mengikuti tata cara agama yang ada, tidak harus melakukan shalat lima waktu, kebaktian gereja mulai ditiinggalkan karena hal itu bersifat lahiriah. Ajarannya lebih menekankan iman dengan kualitas batiniah. Simbol agama seperti orang suci, malaikat dan lain lain mulai ditinggalkan. Hampir semua agama historis mempunyai kecenderungan kearah agama modern awal ini, termasuk Taoisme dan Konfusianisme.

Perkembangan selanjutnya adalah tumbuhnya agama modern yang definisinya bukan munculnya agama baru akan tetapi timbulnya sikap yang lebih modern, seperti dihilangkannya sistem simbol keagamaan yang dualisme. Tidak mempertentangkan dunia dan akhirat, akan tetapi meleburkan menjadi satu dunia dengan tidak kembali ke monoisme primitif. Agama modern mendorong masyarakatnya mengembangkan gagasan-gagasan baru dalam system sosial menuju masyarakat demokratis. Ajarannya adalah keselamatan yang tidak memimpikan surga tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata dengan mengatasi berbagai ketimpangan dalam hidup, menjaga alam dan lingkungan, persamaan dan persaudaraan.

Berkaitan dengan kitab suci, agama modern memandang bahwa kitab suci adalah pelita untuk menuju kebenaran. Dalam kerangka kearifan, agama ini melakukan penafsiran yang mendalam terhadap kitab suci, membiarkan bahasa sastranya sebagaimana adanya, tetapi hanya menyesuaikan irama atau musiknya untuk menemukan inti dan kandungan yang obyektif agar sesuai terhadap perkembangan jaman dan system budaya masyarakat setempat sebagaimana terjadi pada awal abad masehi ketika masuknya agama Hindu dan Buddha di Indonesia.

Pengertian kitab suci, buku suci alkitab atau holy book adalah suatu bentuk buku atau lembaran suci yang memuat Sabda suci atau kalam Ilahi dan dibawa oleh nabi atau rasul. Sebagaimana dilihat dari perjalanan sejarah, kitab tertua yang ada didunia adalah kitab suci agama Hindu yang diperkirakan telah ada sejak 5000 tahun yang lalu. kemudian baru kitab suci agama Yahudi, Majusi, Buddha dan Kong Hucu yang hadir kurang lebih 2500 tahun yang lalu. dan yang lebih muda adalah kitab suci agama Kristen (Perjanjian Baru), kitab agama Islam (Al Qur’an) dan kitab-kitab suci agama Sikh (Adi Grant, sekitar abad XVI) dan agama Bahai yang berkembang sekitar abad XIX. Dari berbagai sejarah tersebut diketahui bahwa kitab suci hadir selalu ditengah suatu masyarakat yang sudah mengenal aksara.Pada umumnya kitab suci memuat hal-hal yang bersifat supranatural seperti Tuhan, dewa, malaikat atau makhluk halus lainnya. Juga memuat tentang kepercayaan tentang dunia yang akan datang, surga dan neraka berikut segala perintah dan larangan, kisah-kisah kepahlawanan, peperangan dan aturan-aturan tentang kehidupan bermasyarakat, serta memuat juga aturan dan tata cara kebaktian kepada Tuhan. Pada kesimpulannya, ternyata semua kitab suci juga menuntun kehidupan batin/spiritual manusia. Dikarenakan banyak mengandung metafora dan perumpamaan, dibutuhkan penalaran dan penafsiran yang bijaksana agar makna yang terkandung dalam setiap ayat dapat menjadi landasan manusia menuju kebenaran dan kehidupan batin yang bersih.

Jumat, Januari 02, 2009

Syekh Siti Jenar - Makna Kematian

Syekh Siti Jenar “Makna Kematian”

Achmad Chodjim PT Serambi Ilmu Semesta November 2006

Ringkasan

Sebagai seorang Jawa, saya seperti berkewajiban menyampaikan sebuih pengetahuan yang saya dapatkan dari buku ini. Terlepas dari kebenaran akan keberadaan Syekh Siti Jenar hanya cerita mitos atau bukan, makna pembelajaran buku ini telah memberikan satu sumbangan yang sangat berarti untuk menambah khasanah ilmu khususnya pengetahuan mengenai Syekh Siti Jenar yang selama ini telah berakar menjadi kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Jawa.

Selama ini saya sebagian besar masyarakat Jawa mengetahui Syekh Siti Jenar berdasar pada cerita turun temurun dan berbau mitologi tanpa pernah mendapatkan referensi yang pasti kebenarannya. Dari berbagai sumber informasi yang saya dapat dan berkembang dimasyarakat Jawa, hampir sebagian besar cerita tentang beliau selalu bersudut miring, atau bernada negatif. Dari seorang Syekh yang atheis, menentang Al-Qur’an dan seolah-olah beliau adalah seorang yang anti agama Islam. Menempatkan sosok Syekh Siti Jenar sebagai seorang yang cukup hanya menjadi sebuah cerita saja, kontroversial dan kesan jika ajaran beliau adalah sebuah ajaran sesat sangat menonjol.

Sebagaimana disampaikan Oleh Budhy Munawar-Rachman, Direktur Pusat Studi Islam Yayasan Paramadina dan seorang dosen di Universitas Paramadina dalam tafsir terhadap buku ini, memberikan konteks Islam Esoteris dalam ajaran Syekh Siti Jenar. Mengungkap secara mendalam mengenai makna kehidupan sebagai Inti dari ajaran agama Islam dan memahami islam melebihi simbol-simbolnya hingga masuk dalam segi realitas tinggi (high reality) - yang bersifat batiniah. Menempatkan Dzikir sebagai jalan memasuki alam psikologis dan batiniah menuju kedekatan denganTuhan.

Dari sini telah terbaca pandangan Sufistik Syekh Siti Jenar dalam misi pengajaran agama di Jawa, bersifat asimilasi (peleburan budaya Arab sebagai tempat lahirnya Al-Qur’an dan Jawa) yang melahirkan ajaran Islam Jawa. Islam yang cocok dan pas untuk budaya dan keunikan manusia Jawa. Ajarannya bersifat obyektif, rasional dan logis membimbing manusia menemukan kebenaran yang hakiki. Berbeda dengan ajaran 8 Wali yang menjalankan akulturasi (penggabungan budaya secara volumtif, hingga masih bisa dikenali budaya aslinya) terhadap ajaran Islam. Interpretasi dan penafiran beliau inilah yang menjadikan konflik 8 Wali dengan Syekh Siti Jenar.

Memahami Makna Kematian untuk menjadi Manusia Hakiki

Bermacam ajaran agama yang ada didunia mempunyai pandangan berbeda tentang kematian. Dari reinkarnasi, kebangkitan, hingga alam barzah. Tetapi intinya mengindikasikan satu tujuan yang sama, yaitu kembalinya diri, jiwa, roh ke Haribaan Tuhan, meninggalkan alam jasmaniah dibumi. Sangat berbeda dengan pendapat dan ajaran Syekh Siti Jenar, yang menyatakan bahwa “dunia ini adalah alam kematian”. Dunia adalah alam kubur dan raga adalah sebuah terali besi yang menahan jiwa berada didunia dan merasakan kesusahan didunia, haus, lapar, dan kesedihan. hidup sekarang hanya sebuah persiapan untuk memasuki hidup yang sebenarnya. dan jika tidak siap, jiwa akan terperangkap ke dalam alam kematian kembali yang bersifat bangkai.. Hakikat hidup adalah kekal selamanya dan tak tertimpa kematian. Analogi hidup dan mati adalah perputaran bumi pada porosnya, atau terjadinya siang dan malam. Ketika manusia lahir, dia sebenarnya “born to die”. Lahir untuk menuju kematian. Dunia bukan jalan hidup tetapi jalan menuju kematian. Hidup yang sebenarnya adalah tanpa raga, telanjang dalam wujud frekuensi murni. Dalam konteks Jawa dikenal dengan “manunggaling kawula Gusti”, bersatunya diri dengan Tuhan. Kebutuhan kita didunia akan sandang, pangan, papan (pakaian, makanan dan tempat tinggal) selama didunia hanya sarana untuk menunda kematian dan menemukan jalan hidup yang sesungguhnya, karena kematian tidak bisa dihentikan. Meskipun pendapat Syekh Siti Jenar ini semua bersumber serta dilandasi pada ayat-ayat Al Qur’an, tetapi universal untuk semua agama umat manusia. Konsep filsafat inilah yang ingin diterapkan oleh Syekh Siti Jenar karena lebih rasional dalam menggambarkan keaslian kultur masyarakat Jawa. Islam yang dipahami sesuai dengan realita, menekankan pada budi pekerti tanpa kebohongan maupun symbol-simbol yang menipu dan melepaskan kebiasaan hidup yang berdasarkan opini ataupun pendapat. Pancaindrapun tidak bisa kita jadikan pedoman dalam hidup untuk mencari kebenaran. Indra hanyalah alat. Materi. Begitu juga dengan akal budi yang masih bisa diartikan sebagai ego karena sifatnya yang bias dan kemungkinan menyimpang. Luar biasa pendapat Sang Syekh ini, karena 250 tahun mendahului pandangan seorang filsuf besar Immanuel Kant (1724-1804).

Syekh Siti Jenar ingin mengajarkan Islam yang sesuai dengan tatanan kehidupan, kondisi dan budaya masyarakatnya. Berdasar pada akal budi yang terpimpin, melepaskan diri terlebih dulu dari hawa nafsu, kepalsuan dan dusta tetapi tetap dalam alur Syariat Islam dengan berpedoman pada Al-Qur’an, berbentuk Islam yang tumbuh dari dalam diri. Bagi Sang Syekh, hidup sesungguhnya adalah menjadi manusia hakiki yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian dan kodrat. Dalam hal ini ada perbedaan pandangan antara beberapa Sufi yang berpendapat pada dualisme, kesatuan hamba dan Tuhan dengan Sang Syekh yang lebih berfokus pada diri pribadi, satu realitas, Tuhan selalu bersama manusia. Menjadi manusia yang memahami eksistensinya karena hanya manusia yang mempunyai eksistensi didunia. Bagi Syekh, kepercayaan adalah kepercayaan, terlepas dari pandangan dualisme maupun monoisme, terlepas dari bermacam agama dan kepercayaan yang membungkusnya. Agama hanya sebuah jalan yang harus dilalui, dengan tujuan yang sama, Tuhan. Disini Syekh mengajarkan manusia untuk melihat perbedaan antara citra dan realita. Semua yang timbul dari sesama manusia adalah citra, sedangkan menguasai ilmu tentang kematian adalah realita.

Berbagai kajian tentang agama Islam yang dibahas dalam buku ini bersumber pada peninggalan sejarah tentang Syekh Siti Jenar dalam bentuk Pupuh (semacam bait-bait puisi yang biasa dilagukan). Diperlukan kematangan pemikiran kita dalam mendalami buku ini agar tidak timbul kesalahpahaman dalam mengartikan sehingga menjebak pemikiran kita sebagaimana pandangan negatif masyarakat Jawa terhadap Syekh Siti Jenar selama ini. Semua pandangan, ajaran dan pendapat Sang Syekh adalah bersumber pada Al-Qur’an yang ditafsirkan secara mendalam, akurat dan dalam pemaknaan yang tinggi sehingga sesuai dengan adat dan budaya masyarakat Jawa tanpa terjadi pemaksaan dalam artifikasi maupun pelaksanaan

Dalam pemikiran saya yang masih dangkal, dari pendapat Syekh Siti Jenar yang dikemukakan dalam buku ini adalah pentingnya implementasi dalam relevansi antara keikhlasan, kesederhanaan dan memberdayakan pemikiran yang logis untuk mencapai eksistensi manusia dalam perjalanan sementara didunia menuju hidup yang sesungguhnya. Tuhan hanya sebagai Causa Prima (Penyebab Pertama) dalam menciptakan manusia. Sedangkan perbuatan baik atau buruk pada manusia merupakan iradatnya sendiri dan tidak bisa disalahkan pada Tuhan. Jika manusia telah mencapai tingkatan dalam pengendalian diri yang baik, berbuat baik beramal saleh, mampu melepaskan hawa nafsu dan berbudi luhur, niscaya Tuhan akan senantiasa bersama manusia. Bila manusia tidak lagi memikirkan semua syari’at, tarekat, hakikat dan makrifat, maka dirinya telah menuju “manunggaling kawula Gusti”. Menjadi wujud realitas manusia sejati yang bisa berasal dari agama Islam, Buddha, Kristen ataupun lainnya. Memenuhi kodratnya sebagai khalifah-Nya didunia. Juga pendapat beliau yang menggambarkan demokrasi, perbedaan pendapat, keberagaman, persatuan dan berbagai pemikiran yang hebat akan tetapi terlalu jauh kedepan melampaui pemikiran umum pada masa itu sehinga menimbulkan perbedaan pendapat dan pergesekan dengan ajaran 8 Wali yang sudah ada pada waktu itu dan berpangkal pada pemusnahan bahkan pembelokan sejarah terhadap Syekh Siti Jenar dan ajarannya.